Kamis, 07 November 2013

Tentang Sendu

         : Maryama al Kad

saat mentari bersandar di balik gigir awan
dan dingin datang diantar oleh tangan-tangan hujan
kau tiba-tiba menjenguk saat kuberada di ruang angan.
-
di sisiku, ikatan di antara kita sepertinya masih berkokok
dalam hangatnya cinta.
masih teringat jelas bagaimana tetes-tetes asa
kita susun menjadi setumpuk genangan.
meski keruh, kita tetap mengerami
dengan harap agar ia menetas di bawah naung
segala restu dan doa.
-
tapi, Tuhan ternyata melirikkan cerita lain.
bangunan air-air itu jadi samudra,
membentang-melebar pisahkan semua kerlap-kerlip rencana.
ada sampan kayu namun tak ada mampu.
ada bahtera bertiang baja namun tak ada daya.
ombak terlalu tinggi dan menembok di tengah ngeri cuaca.
ingin kumelesat terbang di atas petir biruku
namun gelegar guntur terlampau gelap untuk membunuh.
-
barangkali, getar pedih ini sempat tersangkut
pada salah satu ranting-dahan logika-rasamu.
menggugahmu ‘tuk sejenak berpikir dan hadirkan air mata.
barangkali, tidak sama sekali.
meski demikian, aku mengerti bahwa niscaya angin kan pergi.
aku dapat menitip kisah putih ini seiring gemulai tubuhnya
supaya dilayang ke satu taman berbidadari jelita.
-
aku tak tahu di mimpi mana pesan itu akan tiba.
mungkin saja ia memilih membuangnya
karena ia lebih paham tentang makna indah.
-
Sleman, Oktober 2013

*

Dosa

         : Maryama al Kad

daftar garapan nan berkelok-kelok di landasan utopia
kini benar-benar terguling.
tiada lagi polis suci antara aku denganMu.
hanya sisakan keluh kesah kasip
di kelopak ingatan.
-
ada rasa bahwa aliansi terbuka kita
berubah jadi unit-unit dosa.
ciptakan horor di peranti-peranti gandrungku.
kian menggempal dan mendorongku
‘tuk langkahi sendiri kesepatan kolosal ini
di selat-selat angan.
-
barangkali, melalui firman Tuhan
atau dakwah-dakwah alam
kemukus-kemukus hitam ini akan terseka
satu per satu. pelitur harap sudah erosi,
terbetot tanpa akurasi oleh suatu tirani.
mungkin Kau belum menampung
seluruh rekam jejak sayangku itu
meski gurih kode-kode cinta
telah satroni organ-organ berahiMu.
-
bila ada sedikit entakan tentangku
saat Kau pulang ke dalam kenangan
jangan takut boros ‘tuk ukir senyuman.
karena itu berasal dari air mata seorang demonstran.
karena itu pernah diperjuangkan
dari darah seorang gerilyawan.
-
Sleman, Oktober 2013

*

Kamis, 03 Oktober 2013

Dongeng Kematian

aku ingat tentang satu cerita mitologi.
paket itu diantar oleh astronout suatu angkasa.
bak ketuban, ia mendahului ingar-bingar pertanyaan.
-
barang itu hantu, menetap di balik kedua pelipisku.
berarakan seiring seliwerannya sang waktu.
mengharuskanku menyusun skema atau silsilah misteri
pada saban lengking sang berahi.
-
kadang, zat itu menegur melalui sebilah keris,
bayonet, atau pistol mandraguna.
bagai jaksa, ia membawa ke alam gerutu.
hamburkan tepuk tangan busuk sampai rekuiem itu meletup.
memecundangiku hingga ke sumsum tulang
dalam kelambu kenistaan.
-
hasta demi hasta harpun hitam itu mengulas tubuh
‘tuk berikan tetanus biru.
pepohonan keseimbangan hilang digdaya;
morat-marit dan bengkok-bengkok
seperti terlucut dari nampan doa-doa.
-
meski kincir kesyirikan mulai terjaga
dan hijab cemooh mulai terbenam,
aku sama sekali tiada ingin terkerek
maupun terseruduk tanpa pamit ke sana,
ke puak-etnis berideologi benci. kuping manisku
masih sanggup dengarkan suara-suara orkes merah muda
juga lonceng-lonceng magenta.
dan itu adalah monumen apiku
untuk kembali kupakai berlaga
di palagan asmaraloka.
-
Sleman, September 2013

*

Perayaan Cinta

sebenarnya, memorabilia turnamen cinta lalu
masih tergantung pada beberapa dengkur.
selalu berdamping dengan tingkrangan kreasi
saat kucipta proyeksi-proyeksi baru.
-
entah, tiba-tiba organisme seperti ini
muncul begitu saja bagai portal. mencegat,
laksana ingin bertengkar secara terbuka.
ketaatan ibadah di atas ketabahan ini pun semburat.
berlayar ke sana ke sini
kendati perban belum tergugah sempurna.
-
ada ingin untuk melepas kekang
dan kembali bertarung ke dalam sasana bak kesatria.
coba mencuci segenap buntu
supaya tak lagi latah dan berani menangkap konsekuensi.
namun ingatan mengenai pusara-nisan itu
senantiasa bergelantungan di titik-titik gigih.
menggugatku ‘tuk menekuk pintu rapat-rapat.
-
aku tahu bahwa amplitudo penolakan ini bukan manipulasi.
itu adalah pesan di mana aku harus tentukan parameter
di antara kepatuhan dan egoisme.
belajar membina artefak tanda-tanda
dan perlahan-lahan memamah catatan idealis agar lebih adaptif
‘tuk temukan satu warsa istimewa
berdasar kabulan birokrasi doa-doa.
-
ini semacam arisan tanpa figuran.
aku cuma butuh menganut undi,
menunggu para kepiting dan ikan-ikan selesai
bermain teka teki.
-
Sleman, September 2013

*

Pemutilasian Cahaya

         : Maryama al Kad

saat jati diri ini terbakar
tiada satu pun definisi dapat menguntit.
-
kejadian itu terlalu sumir.
mengubahku bagaikan seekor laron terbusuk
         di kolong sunyi
meski ada gumam gerutu di laci daya.
-
kau adalah titipan dewa.
partikel ideal ‘tuk kutautkan di telapak cahaya.
namun aku sendiri juga belum tahu
mengapa transaksi itu harus terjadi.
dan ketika tombol itu bergerak ke belakang
maka alur kerisauan itu menjadi lara
dalam konfigurasi kepedihan paling sempurna.
-
mungkin segenap cengkok artikulasi maafku
takkan pernah sampai di kelingking hatimu.
kuakui bahwa aku memang tak punya institusi
untuk melawanNya
tapi kau mesti tahu bahwa pada kebimbangan itu
kuselipkan doa di antara tangisan api
agar kau selamat dari tangan dan lidah berahi.
-
Sleman, September 2013

*

Minggu, 02 Juni 2013

Perempuan yang Berdiri di antara Kata-kata

         : Maryama al Kad

sebenarnya, ia tak mendapat duduk
di atas papan genting nan dramatis itu.
sebagai murid alami sang rasio
ia mengupah kualitas kesadarannya dengan ilmu.
belajar dengan rajin ‘tuk ciptakan ruang pribadi
saat bubuk-bubuk protes untuk masa silamnya
telah jadi sedimen tak berarti
pada beberapa rasi kondisi.
-
di sekitar keasrian tubuhnya
terdapat spasi-spasi katalisator.
saling terhubung dan tersambung
sebagai strategi dalam satu pesta.
ada legal, ada mangsa. ada setuju, ada seteru.
ada cemburu, ada hormat. ada benah, juga ada patah.
ada batas, ada lintas. ada buang, ada patuh.
ada pandang, ada ribut. ada pelihara, juga ada senjata.
-
ia takkan pernah inginkan hasil gila
tertato di sekujur padat jasadnya.
ia mengerti bahwa lesu dan penat di tiap ronde
mesti direhab tanpa kebebalan dan kepincangan.
ia hanya belum tahu
di mana letak kristal terbaik sang panembahan itu berada.
segalanya masih bertabir.
belum tertanggap dan tertangkap oleh mata jiwa.
-
di suatu dekade
sesuatu akan segera menemaninya,
menyahut aroma doa-doa,
pun mengurus sanggar cinta. dan senyum itu
akan selalu terpasang di atas kasur tidur
ketika gelap di bahunya perlahan mencair
lantas terlempar jauh seiring rentetan peluk
seorang lelaki pembawa kunci surga.
-
Sleman, Mei 2013

*

Selasa, 07 Mei 2013

New Year's Eve

         : Maryama al Kad

siapa saja yang bersama saat hitung mundur
mereka akan bersama selamanya[1]


di dermaga akhir tahun itu
kami hanyalah dualisme lumpuh;
         terpelanting dari medan laga.
urat leher feminin dan maskulin telah rompal,
hanyut dan luput ke dalam debit tanah.
-
pada satu malam di suatu tarikh berpigura,
kami bersentuh.
kosmis di sekitar sedang cerlang
dan menyala-nyala. di pesisir itulah
kami merakit segumpal terumbu karang
sebagai cikal bakal legal tentang gubuk kebersamaan.
membundelnya dalam sebuah kabin berwarna senja kala
agar tak terusik, tereduksi, tergusur, atau bahkan terkhianat
oleh ikhtiar para petaka.
-
dua tahun berlalu, kaktus-kaktus laut itu ambyar.
terpreteli arus dinamika jalanan.
jadi gagu, dengan sorot mata penuh debu
dan tubuh berlubang dalam kerontang.
-
sepanjang kemudi, memang ada reportase dan referensi
dari delapan arah mata batin tentang lapang,
namun gelombang domestik
ternyata kaldera berpalung magma;
         pantang-pantang tengik nan akut terburai dari sana.
secara berangasan liur apinya membakar segala
‘tuk dijadi mendiang
tanpa sisakan serat-akar kehidupan.
-
kini cuma timpang tersisa.
seperti gelandangan, terisolasi di penampungan nista
sembari menunggu tercabut dari teater mahakuasa.
-
Pasuruan, April 2013

[1] Cuplikan kalimat pada film My True Friend tahun 2011. Disutradarai oleh Adsajun Sattagovit.

*

Saat Pelupuk Matamu Terpejam

         : Maryama al Kad

saat kesadaranmu kau enyah-bekukan di bawah tanah
maka di titik itulah dukacitaku tercerai
dari metabolisme haru di tubuh
karena pada wajahmu ada sekumpulan kosmetik
tentang sandi-sandi cemerlang.
terbit seperti hujan lantas banjiri lumpang hati
dengan total dan sengit.
-
di dunia ini
kuingin menyelamatkanmu dengan karunia.
program standar untuk merawani tentakel jiwamu
telah terpantau dini dari para tersangka.
saban orang akan menimpakan sepotong runyam,
juga mencolokkan suara-suara fitnah
di tiap selter persinggahan.
-
katalog-katalog perangkap itu
akan senantiasa bertebaran seperti petasan.
mengobral undangan dari suatu populasi
‘tuk memperturutkanmu agar terduduk-tunduk
sebagai lakon sebuah tipu alegori.
mereka adalah budak kelamin.
berobsesi untuk menihilkan tubuhmu
karena tenggat takkan bisa diralat
ketika tahun baru bergulir untuk mendamprat.
-
seandainya nyana itu terjadi
maka nilai merah ‘kan jadi gerisik
di gempal tegarmu, sayang.
dan aku tak sampai hati
jika kiamat telah memeluk dan merekrutmu
untuk melanglang bersama
ke suatu suram tanpa pijar cinta.
-
bila nanti kau mengutarakan pandang kembali
di pancuran mata berlapis sutra ini,
maka isaplah argumentasi
di sela-sela punggung retinaku
agar kau temukan aksioma tentang secuil intuisi
untuk dilisan-rembeskan
ke pori-pori tubuh dan bibirmu
demi sebuah estimasi janji penuh candu.
-
Sleman, April 2013

*

Jumat, 05 April 2013

Sebuah Pengembaraan dari Luka Diri

sidang tentang talak tiga itu
sudah berprosedur dalam sumpah.
ia bagaikan berondong proyektil.
tengoki kantong-kantong psikis violetku
dan berprakarsa ‘tuk membuat prestasi
jadi tergelincir dan gaduh.
-
mediasi ilmiah
memang sempat menyelidik dan berkontribusi
sebagai jalinan diplomasi.
namun peta kurikulum imaji
telanjur terbelit kawat-kawat berduri.
kupu-kupu kebajikan itu pun
hanya mampu kucurkan alegori.
gemanya sekadar bertabrakan
dengan pemikiran, lantas lesap
di antara gita kemaluan.
-
maka, kupentalkan diri
dari pelataran residu dan awan-awan lusuh itu.
berjalan pada seutas benang tekad
di dalam terowongan nisbi
agar keasrian sadar
tak direnda oleh pena-pena durjana.
juga agar tak terlalu lama singgah dan terlelap
di rumah elegi saat ajang tanya-duka
jadi lancang berapi.
-
mencari mula tentang asal usul
bukanlah telaah mudah.
ia seperti bohlam padam.
tergantung sendiri di sudut aula
seakan-akan tertegun
menyaksikan simbol-simbol tergenang di lantai
tanpa nama. tapi kuyakin
bahwa cip dalam rongga dada ini
takkan selamanya berkalang prahara
karena Tuhan takkan selalu memaki
dan menampar hati sebagai uji
di setiap performa.
-
Sleman, Maret 2013 

*