Jumat, 04 Januari 2013

Jejak Tawa yang Termaktub di Tembok Duka

aku sudah mengembara dan berpelesir
‘tuk hilangkan prihatin. telantar di saung khilaf.
kusempatkan pula ‘tuk pergi
ke berbagai undakan. menampung debur-debur cahaya.
namun, kepada mural itu jugalah aku pulang.
-
misteri di balik selempang warna itu
masih saja menabuhkan syak wasangka.
ia bagaikan busur. selalu melempar tegur.
menuding keterlibatanku
tentang anakronisme. kulayang dan lintaskan
pada satu identitas. kutunggang tiada batas.
tersungkur di sana.
tiada pula coret tawa tercetus
lantas runtuh ke dalam tangki amarah.
semua itu hanyalah memori. belum terpilah
dan masih tengkurap di atas sajadah.
-
kuartal terakhir di tahun lirih ini
memanglah liang lahat, belum sepenuhnya kupahat.
besar kemungkinan bila di sana
ada sebongkah visi nan gadang,
terkubur di dalam lemari berjendela.
‘kan berikan benih karunia
untuk sebuah pemandangan baru
sebelum kokok ayam menerpa
dan mengekang tanyaku hingga tak berarah.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Firasat Kematian

suatu saat,
embusan wangi pada galur tubuhku ini akan musnah.
kancing-kancing tulang punggungku akan lemas
dan tunduk kepada satu tembang, tengah berkecamuk.
itulah fase di mana keberanianku sedang bergidik.
tersesat di atas landasan kepahitan
dan disambut oleh halusinasi tragis, leluasa
mencorakkan cengar-cengir kengerian.
seorang sinden bundar terjun dari langit
pasti akan mengirim lebam untuk menjamah jiwa
dan segera menjebak usus-usus pikir agar mereka
mengarungi rumus edan, gemar terpingkal-pingkil.
-
rangsang kewaspadaan itu
akan senantiasa kupijak dalam hunian batin.
kujamu dengan parfum dan kemenyan merah
sebagai sikap negosiasi di sekujur arah.
dan jika keranda itu tiba
aku akan bergegas mempersunting rayunya
karena tak ada lagi cinta menjilati kotak maduku
di kepadatan harmoni tertata.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Kubangan Kesengsaraan

di masa kesejukan sebuah negasi,
aku menilik selembar almanak di teras karunia.
kerumunan angka dan hurufnya terlihat lentur dan tengkurap.
segelintir dari mereka terkelupas dan menjadi kepundan.
-
pada cekungan metaforis itu,
aku merasa seperti balita kehilangan gerak dan gesit.
dimandikan oleh ilusi, melumat kemampuan dan kecerdasan.
menggeser dan mencukilku ke hamparan kemirisan menyeramkan.
tiada dian berkeliaran di sana.
hanya sisakan sinopsis hampa
berdasarkan menit-menit kilah dan perkara
dari sempalan proklamasi cekcok dan kisruh terarah.
-
profil diriku tampak seperti mayat tak bertema
laksana seonggok kiasan terlempar jauh
ke dalam sumur multiduka.
berdiri di antara aral dan sorak ledekan sembari guncangkan sirip.
berharap dapat naik ke sebuah stasiun kemesraan,
ke dalam satu kubu hangat dijanjikan.
– tapi, aku tak bisa –
-
aku mengerti bahwa itu bukanlah sebuah mitologi
atau iklim selalu terdampar
dan mengarsir kekuatan positif di tanah pusaka.
ada dalil-dalil kudus mesti kusitir
dan kutafsir secara realistis di dalam lambatnya gravitasi.
meski kegamblangan dukacita ini menerus kambuh
dan menyerang secara brutal dan biadab.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Senja yang Meleleh di Pangkuan Malam

senja, kecantikanmu di rongga subuh dulu
kini tak lagi berkumandang.
terperangkap oleh retorik sang waktu. menyabdakan ilusi.
kibaran denyar dari pancaran bohlam di matamu pun telah lunglai.
terbendung gorong-gorong mayapada tak berkatup
di atas ambal kecemasan.
-
kau terlilit sumbu kematian.
bertudung kutuk gulita, menyangkal dan menyanggah.
segala komunikasi manusiawi kau umpatkan
kau adalah pusaka, berdiri di atas ladang kaca
di antara satu batalion jenazah. siap mendaki harum tubuhmu
tanpa risih, demi melampiaskan berahi terakhir tak tertanggungkan.
-
hari ini, kulihat kau masih sanggup berselancar
di atas batuan keridaan.
suara beduk mengorbit dan timbulkan berkas-berkas muhasabah,
tak juga tiba di kumparan hatimu.
ingatlah senja, suatu saat, –niscaya–
benang-benang karunia itu akan meroboh-jatuhkanmu ke parit.
lesapkan dirimu ke dalam lahan cemooh.
dan rohmu, akan dijamu dengan tari-tarian perkabungan.
lantas, kau ‘kan menempuh labirin pipa-pipa paranoia
hingga masuk ke dalam guci kecil berjelaga.
-
mungkin, malam terlebih dahulu menekuk amanah,
dilesatkan dari gedung ketujuh.
sampai-sampai kau tak sadar, kekenyangan, lalu tertidur
akibat pengukuhan sahih bertalu-talu.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Menyekap Sejarah

pada selembar akta,
ada sebuah isbat tercelup dan terbujur di dasar tinta.
lembar itu terlihat lemas
terimpit jutaan rim kertas-kertas klimis dan masih bertempur
dengan buku-buku tegak dan mendongak ke matanya.
-
ia adalah peranti, terborgol keniscayaan
relik. ditangkap oleh tubuhnya
adalah ganjal, mengempiskan segenap hidayah
di dalam rute-rute kehidupan. sudah dan akan diorbitkan.
ia hanya ingin melepas napas, telah diwujudkan
oleh noda merah. dengan ornamen cahaya sebagai jubah
figur itu menjelma menjadi caci maki zalim dilematik.
ia lahir dari air mancur spirit dan syiar kekhidmatan. namun kini,
ia hanyalah imbas dari jerat disorientasi menggebu
saat bibir merah di pusat kota itu menyemburkan plakat-plakat pemanis
di kelana petangku.
-
relik itu telah tertampung dan terkandung di atas karpet sejarah.
mustahil jika ia memindah-parkirkannya ke pantai durjana
atau ke satu lokasi penuh dengan kecengengan belaka.
ia hanya mampu menyekapnya pada level gradasi terendah
hingga langlangan ideologi darinya tertutup
oleh keroyokan ciuman. muncul dari tunas cengkerama.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Kelok Berahi

adakalanya teluk cinta bertolak dari laut lepas.
adalah atmosfer majemuk, limburi dan mengontaminasi dialog hati.
komposisinya terdiri dari potongan-potongan gradasi kaku, bahkan
kucuran kehangatan dari talang kemesraan pun masih beku.
-
tak usah bingung, menggerutu, atau malu.
tantangan mengecam dan menindas takkan pernah runtuh
bila hanya bergantung pada doa dan dogma.
nikmati saja setiap jengkal transisi dengan leluasa.
dan, jika tekanan hatimu mendadak terkokang dalam lengking
lantas saling bersahutan dengan sentakan arus romantis
maka, saat itulah kau tersangkut di kelok berahi.
terendam di kubangan nirwana, sajikan sebuah situs cahaya
tanpa rupa, tanpa logika.
-
tubuhmu akan merekayasa sebuah catatan
tentang teknik dan tahap.
mesti disuntikkan ke dalam gerak
sebagai satu investasi kejayaan.
kelak kau sandang bersama gengsi kemenangan
dalam sepetak siklus muda terus bergentayangan.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Kasidah Kembang Darah

         : Maryama al Kad

dulu, saat kita saling mengeja bait-bait naluri
ada gelembung-gelembung guncang menghardik induk hati.
dalam diskusi dan obrolan kasual, perlahan-lahan kita merayap
menuju sebuah simulasi gempita pada sebuah lahan buta.
masih berderit bila kita menyimaknya.
-
kita meloncat ke sebuah telaga cinta lantas karam.
tergolek di atas sebongkah batu tak berusia.
sendi-sendi ilustrasi pun kian masak
dan memadati sebuah senarai. kita umpati
dengan dawat-dawat suci, dipungut
dari punuk konservasi.
mengaplikasikan gejala-gejala kasih-sayang
dan saling menukar ledakan di dalam sebuah kandang
dalam kegairahan tak bertulang.
-
ketika seabad telah berlalu dan ia lenyap dalam getas,
tiba-tiba saja kita berdiri di puncak lautan neraka.
hutan dibangun dengan sihir kemesraan
kini telah terungkai dari kening asmara.
paru-paru kita tersiksa dan membusuk
karena kita serempak untuk saling melongsorkan siang
dan mengaborsi cinta di kancah pertempuran
tanpa saling menularkan bulu-bulu rindu
dan memuntahkan air mata
demi sebungkus kado pernikahan, masih kita simpan
di keranjang perjanjian.
-
mungkin, aku tak usah lagi bersekutu
dengan lampu-lampu mungil tumpul ini, karena
dia adalah jantung hati di suatu musim
dan dia juga penghancur hati di musim yang lain …[1].
-
Sleman, Desember 2012

*




[1] Kutipan dari film Kal Ho Naa Ho.

Ayat-ayat Duka

gebyar sebuah citra pernah melabrak hayatku.
memang masih terbekas dan tergantung di dahan memori.
selalu mendesis saat rumbai-rumbai lenganku coba memisahkan
dan aku tetap saja tak mampu mencampak
meski ia telah menjadi penyakit pengupas ketangkasan.
-
ia adalah teks-teks gelap. menyusup
pada selembar kertas batu dengan titel tersumpah.
menjadi sekeping deklarasi,
mengguntingi segenap semangat bercinta.
menindas kinerja otak di pusat meditasi. kubangun
dari janur transisi dan suara-suara asa
saat pendulum sihirku masih sanggup jelajahi teka-teki
di atas bundaran komitmen tak berbatas.
-
aku terkejut dalam cengang tatkala gelitik kekalahan sudah sepakat
‘tuk dampingi perilaku. mengundang perbedaan
dalam perlintasan tak terukur oleh waktu.
arca-arca kesopanan kian aus dan tersingkir dari bidang keyakinan
membuatku merasa seperti sebatang pion. ditimang oleh sungkawa
dalam kerabunan penuh aniaya.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Remah-remah Sunyi

aku menulis napas ini
dalam pelukan sebuah jalur. gugurkan angin
di atas kertas biru terpencil.
kugilaskan tutur-tutur asing ini dari lorong kegalauan.
-
aku adalah kerikil. terlunta-lunta
pada serak geladak gurun.
jantungku terbungkam oleh friksi dan sengketa,
muncul dari penetrasi klasik sang pesta.
menyelundup lewati sekat-sekat. kuteguh-tempelkan
dalam kantuk statis kian menyeramkan.
-
kepalaku pun tersaput oleh karung kegilaan.
merongrong dan mengabrasi sistem kerja otak, juga
memakzulkan rasionalitas. kuterapkan di sulur-sulur nadi
menggantinya dengan pijar-pijar sesat. menuntunku
ke surga hitam dalam syahwat.
-
aset tubuhku kini
hanyalah sebuah bubuhan peran
di tikar agenda milik Tuhan.
– tak tersangkal dan tak tertahan –
laksana selembar presentasi. mesti kujunjung
seperti payung. tetaskan hikmah
sebagai bekal pertaruhan
-
Sleman, Desember 2012 

*